Setelah enam musim tayang di layar kaca dan menjadi salah satu drama kriminal televisi paling berpengaruh, sutradara Tom Harper bersama kreator sekaligus penulis naskah Steven Knight membawa saga dinasti kejahatan Birmingham ke layar lebar melalui Peaky Blinders: The Immortal Man. Mengambil latar waktu tahun 1940 saat gelombang serangan udara Perang Dunia II (Birmingham Blitz) menghancurkan Inggris, film ini berfungsi ganda: sebagai penutup babak emosional bagi Thomas “Tommy” Shelby (Cillian Murphy) sekaligus jembatan regenerasi bagi klan Peaky Blinders di era modern.
Premis dan Dinamika Plot
Enam tahun setelah peristiwa musim keenam, Tommy Shelby memilih hidup dalam pengasingan diri di pedesaan, bergulat dengan trauma masa lalu, kehilangan keluarga, dan hantu-hantu yang terus menghantuinya. Namun, ketenangan semu tersebut hancur ketika kota kelahirannya, Birmingham, dibombardir oleh armada Luftwaffe Jerman.
Di tengah kekacauan perang, putra Tommy, Duke Shelby (Barry Keoghan), mengambil alih kemudi geng. Berbeda dengan kalkulasi dingin ayahnya, Duke yang impulsif dan haus pembuktian justru terjerat konspirasi tingkat tinggi bersama simpatisan fasis bernama John Beckett (Tim Roth). Beckett memanfaatkan Peaky Blinders untuk melancarkan operasi pemalsuan uang pound sterling massal demi menghancurkan stabilitas ekonomi Inggris dan memuluskan langkah Nazi. Situasi genting ini memaksa Tommy kembali mengenakan mantel dan topi pet ikoniknya guna menyelamatkan nama keluarga, kota, serta sisa integritas moral yang ia miliki.
Analisis Penampilan Karakter dan Ansambel Pemeran
- Cillian Murphy (Thomas Shelby): Murphy kembali memberikan performa berkelas. Di film ini, Tommy tidak lagi digambarkan sekadar sebagai bos mafia yang tak terkalahkan, melainkan pria yang lelah, rapuh secara batin, namun tetap memiliki tatapan tajam dan naluri bertahan hidup yang mematikan.
- Barry Keoghan (Duke Shelby): Keoghan mengambil alih peran Duke dengan energi liar dan tatapan mata yang sulit ditebak. Ia berhasil menggambarkan kerentanan seorang pemuda yang terasing dan terjebak di bawah bayang-bayang kebesaran sang ayah. Pertemuan tatap muka antara Murphy dan Keoghan menjadi salah satu magnet dramatis terkuat.
- Tim Roth (John Beckett): Roth membawakan sosok antagonis yang manipulatif, elegan, dan menjijikkan secara bersamaan, mewakili intrik politik kotor di masa perang.
- Rebecca Ferguson (Kaulo/Zelda): Ferguson menghadirkan aura mistisisme Romani yang kental, memperkuat hubungan Tommy dengan akar spiritual dan masa lalunya.
- Pemeran Pendukung Orisinal: Kehadiran Sophie Rundle sebagai Ada Thorne, Ned Dennehy sebagai Charlie Strong, Packy Lee sebagai Johnny Dogs, dan Stephen Graham sebagai Hayden Stagg menjaga kesinambungan dunia kriminal Birmingham yang telah dibangun selama satu dekade.
Arahan Sinematik, Musik, dan Atmosfer
Tom Harper memanfaatkan skala film bioskop untuk menghadirkan visual yang lebih megah dan sinematik. Kontras antara ledakan bom api di kawasan industri Small Heath yang pekat oleh jelaga dan bentang alam pedesaan yang berkabut dieksekusi dengan estetika tata cahaya tajam.
Ciri khas musikalitas waralaba ini tetap dipertahankan. Musik latar kontemporer yang anakronistik berpadu dengan lagu legendaris Nick Cave, Red Right Hand, memberikan dorongan ritme pada adegan aksi berskala besar—dari baku tembak di dermaga hingga pertempuran di kanal Liverpool.
Catatan Kritis
- Kepadatan Durasi: Memadatkan skala narasi politik Perang Dunia II, konflik regenerasi keluarga, dan misteri spionase ke dalam durasi 112 menit membuat beberapa sub-plot perpindahan alur terasa agak terburu-buru di paruh tengah.
- Ketiadaan Tokoh Kunci: Absennya beberapa pilar emosional klasik keluarga Shelby meninggalkan sedikit kekosongan dalam dinamika antartokoh lama.
Ringkasan Evaluasi
| Kategori | Catatan Evaluasi | Skor |
| Akting dan Penjiwaan | Penampilan solid Cillian Murphy didukung dinamika tajam Barry Keoghan | 9.0/10 |
| Naskah dan Plot | Narasi spionase perang yang seru, meski tempo terasa padat di babak kedua | 8.0/10 |
| Sinematografi dan Visual | Penggambaran visual Birmingham Blitz dan industri era 1940 yang impresif | 8.8/10 |
| Tata Musik dan Audio | Pemilihan trek modern dan aransemen skoring yang memperkuat ritme laga | 8.5/10 |
Peaky Blinders: The Immortal Man berhasil menyuguhkan tontonan laga-drama periode yang intens, berbobot, dan memuaskan basis penggemar. Film ini memberikan penutup yang layak bagi perjalanan emosional Tommy Shelby sekaligus membuktikan daya tahan mitologi kejahatan jalanan Birmingham di panggung sinema global.
Kesimpulannya film ini mendapatkan skor akhir 8.5/10 versi admin. Sangat layak jadi tontonan favorit semua kalangan.

Tinggalkan Balasan