Review Film London Has Fallen: Kekacauan Spektakuler dan Adrenalin Tanpa Henti di Jantung Inggris

Ditulis oleh

di

Dirilis pada tahun 2016, London Has Fallen hadir sebagai sekuel langsung dari film box office sukses Olympus Has Fallen (2013). Disutradarai oleh Babak Najafi, film ini membawa formula laga brutal dari film pertamanya ke skala yang jauh lebih luas. Jika sebelumnya teror berpusat di dalam Gedung Putih, kali ini ancaman global melumpuhkan salah satu kota paling ikonik di dunia: London.

Dengan durasi sekitar 98 menit, film ini secara konsisten memacu adrenalin penonton melalui serangkaian adegan tembak-menembak, ledakan dahsyat, serta pertarungan jarak dekat yang intens tanpa memberikan waktu istirahat yang panjang.

Sinopsis Singkat: Pemakaman yang Berubah Menjadi Medan Perang

Cerita bermula ketika Perdana Menteri Inggris secara misterius meninggal dunia. Kematian mendadak ini mengharuskan para pemimpin negara dari seluruh dunia berkumpul di London untuk menghadiri upacara pemakaman kenegaraan. Acara yang seharusnya dijaga dengan tingkat pengamanan tertinggi di dunia ini ternyata berubah menjadi jebakan teroris yang sangat matang.

Ameer Barkawi—seorang gembong teroris internasional yang keluarganya menjadi korban serangan drone militer—merencanakan pembalasan dendam besar-besaran. Bersama jaringan terorisnya yang telah menyusup ke berbagai lini penting di kota London, mereka melancarkan serangan terkoordinasi secara serentak.

Beberapa pemimpin dunia tewas seketika dalam kekacauan awal tersebut. Di tengah kekacauan total ini, Presiden Amerika Serikat, Benjamin Asher (Aaron Eckhart), menjadi target utama penculikan. Beruntung, agen Secret Service setianya, Mike Banning (Gerard Butler), berhasil mengamankannya. Duo ini kemudian harus berjuang hidup dan mati di tengah kota asing yang dikuasai oleh musuh, sembari menunggu bantuan pasukan khusus yang tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan.

Analisis Karakter dan Akting: Duet Maut Banning dan Asher

Kekuatan terbesar dari franchise ini selalu bertumpu pada pundak Gerard Butler sebagai Mike Banning. Butler kembali memerankan karakter pahlawan aksi klasik era 90-an yang tangguh, tidak kenal takut, dan memiliki ketahanan fisik luar biasa—sering kali disandingkan dengan karakter John McClane dalam Die Hard.

Di sisi lain, Aaron Eckhart sebagai Presiden Benjamin Asher kembali menampilkan dinamika pemimpin yang rentan namun karismatik. Meskipun beberapa penonton mungkin merasa frustrasi dengan posisi Presiden yang sering kali menjadi “beban” penyelamatan, interaksi emosional dan ketegangan di antara Banning dan Asher tetap menjadi jangkar cerita yang kuat di tengah hujan peluru.

Visual, Efek Khusus, dan Sinematografi

Dari segi skala visual, London Has Fallen jelas mengalami peningkatan anggaran dan ambisi dibandingkan film pertamanya. Landmark terkenal seperti Katedral St. Paul, Westminster Abbey, hingga Jembatan Vauxhall hancur lebur dalam sekejap akibat rentetan bom dan serangan teroris bersenjata berat.

Meskipun sebagian besar proses syuting menggunakan kombinasi studio di Bulgaria serta dukungan teknologi CGI yang masif, hasil akhirnya tetap terlihat megah di layar lebar. Koreografi adegan aksi, terutama tembakan taktis pada paruh kedua film, berhasil menampilkan ketegangan perang kota yang nyata.

Rangkuman Rating Film

Meskipun sukses secara komersial dengan meraup pendapatan global sekitar $205,8 juta dari anggaran $60 juta, penerimaan kritikus dan penonton terhadap film ini tergolong terpolarisasi:

  • Rotten Tomatoes (Tomatometer): 28% (Menunjukkan ulasan mayoritas negatif dari para kritikus karena alur cerita yang klise dan muatan politis yang dianggap usang).
  • Rotten Tomatoes (Audience Score): 56% (Menunjukkan bahwa penonton umum jauh lebih menerima film ini sebagai hiburan murni ketimbang para kritikus profesional).
  • Metacritic: 28 / 100 (Menandakan ulasan yang secara umum tidak menguntungkan di kalangan kritikus perfilman).
  • IMDb Rating: 5.9 / 10 (Nilai yang cukup stabil untuk ukuran film aksi blockbuster standar hiburan akhir pekan).
  • CinemaScore: A− (Menunjukkan apresiasi yang sangat positif dari penonton bioskop saat hari penayangan perdana mereka).

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan:

  • Aksi Tanpa Henti: Tempo film berjalan sangat cepat dan konsisten dari awal hingga akhir.
  • Koreografi Solid: Baku tembak dan perkelahian tangan kosong dieksekusi secara mentah dan agresif.
  • Chemistry Tokoh Utama: Hubungan persahabatan antara Mike Banning dan Presiden Asher terasa tulus dan hidup.

Kekurangan:

  • Naratif Mudah Ditebak: Alur cerita dan motif penjahat terasa stereotip dan klise.
  • Pengembangan Karakter Minim: Karakter pemimpin dunia pendukung terasa datar dan hanya berfungsi sebagai pelengkap plot kehancuran.

Kesimpulan

London Has Fallen bukanlah sebuah mahakarya sinema yang menawarkan teka-teki filosofis yang rumit. Film ini murni dirancang sebagai tontonan hiburan pelepas penat yang menyuguhkan aksi destruktif berskala besar. Bagi para pecinta genre action-thriller murni yang merindukan gaya film laga konvensional dengan ledakan spektakuler serta aksi heroik tanpa batas dari Gerard Butler, film ini tetap sangat layak untuk disaksikan.

Apakah Anda lebih sepakat dengan penilaian para kritikus yang menganggap film ini biasa saja, atau justru menikmati aksi seru ala penonton umum di bioskop?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *